Media Pers Indonesia Media Pers Indonesia » KESALAHAN ANALISIS BAHASA INDONESIA

KESALAHAN ANALISIS BAHASA INDONESIA

KESALAHAN ANALISIS BAHASA INDONESIA

Thalia Isaura Puspita.

Mediapersindonesia.com – PENDIDIKAN. Sekitar Desember 2020, ada suatu kasus viral mengenai soal Ujian Sekolah di DKI Jakarta yang menggunakan kata “Anies” dan “Mega” dalam soalnya. Kasus ini sempat menjadi perhatian publik karena dua nama tersebut adalah nama pejabat publik yang terkenal di Indonesia. Soal ini dibuat oleh salah satu guru di DKI Jakarta. Namun, soal ini dipermasalahkan oleh salah satu pejabat publik. Akhirnya, si guru meminta maaf.

Di mana letak masalahnya? Dalam konteks perpolitikan, nama “Anies” dianggap sebagai “ikon” DKI Jakarta karena yang menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta adalah pak Anies Baswedan. Di sisi lain, ada nama “Mega”. Beliau sangat terkenal karena merupakan nama anak seorang proklamator bangsa Indonesia (Soekarno), yaitu ibu Megawati Soekarnoputri. Dengan demikian, ada anggapan (bahkan dari masyarakat) perihal “Anies” dan “Mega” dalam soal itu adalah pak Anies Baswedan dan ibu Megawati Soekarnoputri. Di sini lah letak kesalahan analisis bahasa Indonesia.

Padahal, dalam teks itu, hanya disebutkan kata “Mega”. Nama “Mega” pun bukan berarti hanya dimiliki ibu Megawati Soekarnoputri. Walaupun sama-sama mengandung unsur “Mega” dan kata tersebut merupakan nama panggilannya, belum tentu kata “Mega” selalu mengacu ke Megawati Soekarnoputri. Ada pula artis bernama Mega Utami, Mega Dwi Cahyani, dan Mega Putri Aulia. Lantas, mengapa kata “Mega” dianggap mengacu ke Megawati Soekarnoputri?

Kejadian ini merupakan suatu masalah dalam analisis bahasa Indonesia. Dalam menganalisis bahasa Idonesia, terdapat berbagai batasan tertentu yang menjadi standar atau pedoman penafsiran. Standar tersebut ialah sifat bahasa sebagai alat komunikasi yang netral. Bahasa bersifat netral karena merefleksikan makn. Bahasa digunakan untuk menyatakan makna tertentu, baik secara umum maupun khusus. Meskipun dalam realitasnya bahasa memiliki makna umum dan kiasan, penggunaan bahasa tidak memiliki keterkaitan dengan realitas yang berada di makna kata, apalagi dengan aspek yang tidak dijelaskan pada kalimat. 

Baca Juga: HUBUNGAN KEMAMPUAN BICARA DAN MARKETING

Karena netral, bahasa tidak boleh mendapatkan intervensi subjektif. Tidak boleh ada penafsiran subjektif terhadap suatu makna. Yang dimaksud oleh subjektif bukan proses seseorang mengartikan suatu makna, tetapi proses makna tersebut dikaitkan secara sewenang-wenang dengan hal yang di luar makna, apalagi untuk tujuan personal, baik sosial maupun politis. Apa yang menjadi makna bahasa harus objektif, sebagaimana adanya. Bahasa seharusnya dimaknai hanya terbatas pada bagaimana kata dalam suatu wacana berkontribusi dalam konstruksi makna kalimat.

Mari kita pakai contoh kasus, yaitu kasus nama “Mega” di dalam soal ujian sekolah. Sebenarnya, kata “Mega” bermakna ‘nama seseorang’. Penafsiran bahasa hanya bisa sampai ke level demikian; tidak boleh lebih; harus objektif. Jika kata “Mega” di sana ditafsirkan sebagai hal yang di luar makna referennya, misalnya ‘Megawati Soekarnoputri’, yang muncul adalah interpretasi sewenang-wenang yang menimbulkan konflik. Nyatanya, sang pembuat soal didesak untuk meminta maaf melalui video klarifikasi yang disebar ke internet. Dia pun akhirnya membuat permintaan maaf di internet. Penafsiran bahasa yang seperti ini adalah penafsiran bahasa yang tidak baik, tidak objektif, dan tidak ilmiah.

Dengan demikian, masyarakat pengguna bahasa tidak boleh mengaitkan perspektif personal menjadi informasi objektif. Suatu perspektif atau sudut pandang personal tidak boleh dikaitkan dengan apa yang disampaikan orang lain karena, jelas, apa yang dipersepsikan belum tentu kebenaran. Bahasa adalah suatu alat yang netral sehingga jika dikaitkan dengan sesuatu secara sewenang-wenang, akan timbul masalah yang kompleks. Untuk menghindari kesalahan analisis bahasa Indonesia, pengguna bahasa Indonesia harus menafsirkan bahasa dengan objektif, tidak boleh sewenang-wenang, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun profesional. 

Penulis: Thalia Isaura Puspita (211011200062) adalah seorang mahasiswi Universitas Pamulang, Program studi Akuntansi S-1

error

Share to: