Media Pers Indonesia Media Pers Indonesia » KRITIK DENGAN SINGKATAN MILENIAL YANG BERKONOTASI NEGATIF DALAM BAHASA INDONESIA

KRITIK DENGAN SINGKATAN MILENIAL YANG BERKONOTASI NEGATIF DALAM BAHASA INDONESIA

KRITIK DENGAN SINGKATAN MILENIAL YANG BERKONOTASI NEGATIF DALAM BAHASA INDONESIA

Mediapersindonesia.com – PENDIDIKAN. Tiap-tiap manusia mempunyai potensi untuk mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Apalagi pada era globalisasi dengan kemajuan teknologi yang begitu signifikan saat ini. Pengaruh kebudayaan, trend, mode, perilaku dan penggunaan bahasa sehari-hari menjadi objek yang tepat dalam perubahan konduite masyarakat.

Pada dasarnya, ada sebagian dari orang dalam satu lingkungan yang selalu punya kecenderungan untuk menjadi sosok yang gemar menghina dan menghakimi orang lain. Dalam era digital kala ini, tak terhitung singkatan bahkan idiom dengan konotasi negatif yang berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Walaupun makna yang disampaikan tidak secara langsung, tetapi dapat diketahui oleh khalayak ramai berkenaan kalimat singkatan tersebut.

Segelintir permasalahan layaknya ini yang harus didefinisikan untuk kemudian di hapuskan. Terlebih di media sosial, sekarang kita bisa melihat betapa mudahnya setiap orang mengkritik satu sama lain. Sebenarnya tidak ada larangan dalam mengkritik orang lain, tetapi dalam menyampaikan kritik, koreksi, maupun saran seharusnya tetap menghormati salah satunya dengan cara menggunakan tutur kata yang lebih baik dan lebih sopan.

“Ponsel lo kentang banget” ujaran seorang remaja kepada lawan bicara di sebelahnya

Baca Juga: PELANTIKAN IKATAN KELUARGA ALUMNI (IKA) UNIVERSITAS PAMULANG PRIODE 2022-2024

Mungkin bagi orang awam ataupun orang yang gagap teknologi akan menganggap kata “kentang” bukanlah sebuah hal yang menyimpang. Padahal maksud “kentang” yang sebenarnya pada kalimat di atas digunakan untuk mengejek sesuatu yang dianggap tidak menarik atau bosan. Makna idiom pada kata “kentang” memang belum dikenal luas di segala usia karena kata ini sebenarnya kata umum yang merupakan sebuah kata benda namun mempunyai makna lain yang diciptakan baru-baru ini.

“Sampis, kenapa lo beli barang ini sih!”

Pada kalimat kritik di atas, kata “sampis” adalah kepanjangan dari “sampah abis” yang kerap diucapkan oleh anak milenial dan biasanya digunakan oleh seseorang ketika sedang meluapkan emosinya. Dilihat dari kepanjangan singkatannya pun dapat dipastikan bahwa singkatan ini tergolong kedalam kata yang kasar untuk diucapkan.

Ketika menilik lebih detail kalimat-kalimat layaknya contoh di atas pada bahasa gaul kerap  mengundang atensi masyarakat dalam mempelajari istilah atau singkatan baru pada saat ini. Walaupun tidak bisa diartikan secara harfiah, kalimat bermakna idiom ini dapat mewakili emosi atau ekspresi tertentu secara tersirat. Perlu diingat bahwa tidak semua bahasa atau istilah milenial saat ini dengan konotasi negatif tetapi masih banyak pula istilah lainnya dengan konotasi positif.

Secara tidak sadar, dampak dari istilah dengan konotasi negatif pada ucapan ke seharian ini dapat menyudutkan bahkan hingga dapat menyalahkan penerima ungkapan tersebut. Kondisi seperti ini mengharuskan diri dalam memisahkan pengaruh baik dan buruknya khususnya dalam menggunakan media sosial yang terkadang hanya sekadar tulisan pun akan menyebabkan dampak buruk kepada penerimanya Oleh karena itu, sebaiknya kalimat dengan idiom dengan konotasi negatif pada bahasa gaul sekarang ini tidak digunakan dalam tutur kata sehari-hari dan cukup jadikan referensi semata.

*Artikel ini dibuat sebagai pemenuhan tugas Bahasa Indonesia Sahda Sabina Sidik, Universitas Pamulang

error

Share to: