July 24, 2024

PIHAK UNHAS BEKUKAN ORMA MAPALA USAI SATU MAHASISWA DIKSAR TEWAS

Mediapersindonesia.com – PENDIDIKAN. Pihak kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan menghentikan seluruh kegiatan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) 09.

Pembekuan organisasi Mapala itu dilakukan rektorat pascatewasnya seorang mahasiswa Fakultas Teknik saat mengikuti pendidikan dasar (diksar), Sabtu (14/1) kemarin.

“Iya benar, untuk sementara dibekukan,” kata Humas Unhas, Supratman Athana Senin (16/1).

Supratman menerangkan, rencananya pihak komisi disiplin akan bertemu dengan pihak keluarga mahasiswa, Virendy Marjefy Wehantouw (19).

“Kemungkinan besar rencananya komdis akan bertemu dengan pihak keluarga mahasiswa hari ini,” jelasnya.

Sementara terkait sanksi apabila ditemukan pelanggaran dalam kematian korban, Supratman mengaku pihaknya masih menunggu hasil investigasi tim komdis.

“Sabar ya, semoga tim investigasi secepatnya ada hasilnya,” kata dia.

Orang tua korban lapor polisi
Orang tua mahasiswa yang tewas saat diksar telah melakukan pelaporan ke pihak kepolisian.

Pihak keluarga korban telah melapor secara resmi ke Polres Maros yang dibuktikan dengan nomor: LP/B/18/1/2023/SPKT/POLRES MAROS/POLDA SULAWESI SELATAN, tanggal 15 Januari 2023. Laporan tersebut terkait dengan dugaan pelanggaran Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian.

“Keluarga Virendy Marjefy Wehantouw sore tadi resmi membuat laporan polisi ke Polres Maros,” kata ayah korban, James, Minggu (15/1).

Pihak keluarga kata James merasa ada yang janggal dengan kematian anak laki-lakinya, lantaran menemukan adanya luka lebam pada tubuh korban.

“Ada beberapa lebam yang ditemukan pada saat akan dimandikan jenazah,” ungkapnya.

Sementara kakak ipar korban, Riyan Mongan menilai panitia dan pengurus Mapala 09 Unhas sengaja menutupi kejadian yang mengakibatkan korban meninggal dunia demi menjaga nama baik kampus.

“Dia (Panitia) seakan akan membungkam ini, dia bikin satu cerita biar jalannya ini baik, dengan sama semua nadanya. supaya tidak ada yang mencoreng nama kampus,” kata Riyan.

Virendy sebelum berangkat ke lokasi diksar, kata Riyan, sempat menjalani tes kesehatan sebanyak dua kali. Oleh karena itu pihaknya menilai korban telah lulus tes fisik untuk ikut diksar tersebut.

“Sebelum dia berangkat dia cek kesehatan 2 kali. Artinya kalau dia pergi lalu drop berarti itu sudah fatal, karena ini orang (korban) sehat perginya. Jadi kalau dibilang lemah fisiknya, kok bisa loloskan pergi kan. Adakan orang beberapa tersingkir sebelum dinyatakan lolos, artinya fisiknya ini [korban tewas] bagus,” kata Riyan.