SEJARAH PERKEMBANGAN HOAKS DUNIA, PENYEBABNYA, KETENTUAN PIDANANYA, SERTA CARA MEMBERANTAS KEJAHATAN INFORMASI DUNIA NYATA DAN DUNIA MAYA (HOAKS) - MEDIA PERS INDONESIA
28/11/2021

MEDIA PERS INDONESIA

Integritas Fakta Terpercaya

Home » SEJARAH PERKEMBANGAN HOAKS DUNIA, PENYEBABNYA, KETENTUAN PIDANANYA, SERTA CARA MEMBERANTAS KEJAHATAN INFORMASI DUNIA NYATA DAN DUNIA MAYA (HOAKS)

SEJARAH PERKEMBANGAN HOAKS DUNIA, PENYEBABNYA, KETENTUAN PIDANANYA, SERTA CARA MEMBERANTAS KEJAHATAN INFORMASI DUNIA NYATA DAN DUNIA MAYA (HOAKS)

Mediapersindonesia.com – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai informasi bohong. Menurut Lexico Oxford Dictionary yaitu: A humorous or malicious deception.(penipuan jahat).

Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran. Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta

Sebuah kebohongan bisa disebut hoaks apabila dibuat secara sengaja agar dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Tak hanya itu, kebohongan baru bisa disebut hoaks apabila keberadaannya memiliki tujuan tertentu, seperti misalnya untuk memengaruhi opini publik.

Ketua Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Fitnah, Septiaji Eko Nugroho menjelaskan bahwa hoaks adalah sebuah informasi yang direkayasa. Informasi tersebut dibuat untuk menutup-nutupi informasi yang sebenarnya. Selain itu, hoaks juga merupakan upaya untuk memutar balikan fakta. Fakta tersebut akan diganti dengan informasi-informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Septiaji mengartikan bahwa hoaks adalah tindakan mengaburkan sebuah informasi yang benar. Caranya yaitu dengan membanjiri suatu media, melalui pesan-pesan yang salah. Hal tersebut mengakibatkan pesan yang benar akan tertutupi.

Robert Nares tahun 1822. Ia menulis mengenai asal-muasal kata hoaks. Menurutnya hoaks berasal dari kata “hocus” dalam “hocus pocus”. Menurutnya, hocus pocus adalah mantra yang diucapkan oleh para penyihir. Kata hocus pocus diambil dari salah satu nama penyihir di Italia yang terkenal yaitu Ochus Bochus. Kemudian dipakai oleh para pesulap untuk pertunjukan di dalam trik mereka.

1. SEJARAH PERKEMBANGAN HOAX DUNIA DAN NASIONAL

  • Pertama yang dicatat pada 1661. Kasus tersebut adalah soal Drummer of Tedworth, yang berkisah soal John Mompesson (Inggris) seorang tuan tanah- yang dihantui oleh suara-suara drum setiap malam di rumahnya. Ia mendapat nasib tersebut setelah ia menuntut William Drury – seorang drummer band gipsy- dan berhasil memenangkan perkara. Mompesson menuduh Drury melakukan guna-guna terhadap rumahnya karena dendam akibat kekalahannya di pengadilan. Singkat cerita, seorang penulis bernama Glanvill mendengar kisah tersebut. Ia mendatangi rumah tersebut dan mengaku mendengar suara-suara yang sama. Ia kemudian menceritakannya ke dalam tiga buku cerita yang diakunya berasal dari kisah nyata. Kehebohan dan keseraman local horror story tersebut berhasil menaikkan penjualan buku Glancill. Namun, pada buku ketiga Glanvill mengakui bahwa suara-suara tersebut hanyalah trik dan apa yang ceritakan adalah bohong belaka.
  • Ada juga kisah soal Benjamin Franklin yang pada tahun 1745 lewat harian Pennsylvania (amarika) mengungkap adanya sebuah benda bernama “Batu China” yang dapat mengobati rabies, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya. Sayangnya, nama Benjamin Franklin saat itu membuat standar verifikasi kedokteran tidak dilakukan sebagaimana standar semestinya.Meski begitu, ternyata batu yang dimaksud hanyalah terbuat dari tanduk rusa biasa yang tak memiliki fungsi medis apapun.
  • Skandal Sokal, disebut juga kebohongan Sokal, adalah jebakan publikasi ilmiah yang dilakukan oleh Alan Sokal, seorang profesor fisika di New York University dan University College London. Pada tahun 1996, Sokal mengirim sebuah artikel ke Social Text, jurnal akademik tentang kajian budaya pascamodern. Artikel ini merupakan eksperimen untuk menguji ketelitian intelektual dan menyelidiki apakah “sebuah jurnal kajian budaya ternama di Amerika Utara – yang dewan redaksinya meliputi tokoh-tokoh seperti Fredric Jameson dan Andrew Ross – [mau] menerbitkan artikel yang dipenuhi omong kosong apabila (a) bahasanya meyakinkan dan (b) cocok dengan kecondongan ideologis para penyuntingnya”. Ketika diterbitkan bulan Mei 1996, Sokal mengungkapkan di Lingua Franca bahwa artikelnya bohong. Kebohongan ini memancing perdebatan tentang bobot akademik komentar orang-orang humaniora terhadap ilmu fisika; pengaruh filsafat pascamodern terhadap disiplin ilmu sosial secara umum, termasuk apakah Sokal salah karena menipu penyunting dan pembaca Social Text; dan apakah Social Text sudah menerapkan penelaahan intelektual yang memadai.
  • Sebelum manusia menginjakan kaki di bumi saat Nabi Adam di keluarkan dari surga karena berita bohong (hoax) dari iblis yang mengatakan bahwasanya jika memakan buah khuldi itu akan abadi di surga dan dapat menjadi malaikat

SEJARAH PERKEMBANGAN HOAX NASIONAL

hoax awalnya hanya iseng. Tapi memang mulai massive karena Pilkada DKI 2012 pemilihan presiden (Pilpres) 2014

data Nielsen lain juga mengungkapkan ada penurunan jumlah koran di Indonesia. Pada 2012 misalnya, 102 koran dalam perhitungan lembagai survei ini, lalu hingga kuartal I-2016, hanya terhitung 99 koran di Indonesia. Tahun lalu beberapa media cetak seperti Sinar Harapan, Harian Bola, Jakarta Globe, dan Koran Tempo Minggu menghentikan penerbitannya. Selain koran, jumlah majalah juga menyusut. Pada 2012 masih ada 162 majalah, tapi pada kuartal I-2016 hanya tersisa 123 majalah. Ada 800.000 Situs Penyebar Hoax di Indonesia (2017)

“Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu,” katanya. Ia menyebut internet telah salah dimanfaatkan oknum tertentu untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten-konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai di masyarakat. (2017)

Kementerian Komunikasi dan Informasi mencatat jumlah pengguna medsos di Indonesia telah mencapai sekitar 132,7 juta orang. (2017)

Menurut survey mastel (2019) dari 1.116 responden yang menerima hoax lebih dari satu kali perhari sebanyak 14,7%, lalu 34,6% menerima hoax setiap hari, dan 23,5% menerima hoax seminggu sekali, lalu sebanyak 18,2% menerima hoax sebulan sekali.

Persentase media yang menyebar hoax seperti radio (1,20%), media cetak (5%), dan televisi (8,70%). Media penyebaran hoax pada saat ini beragam, diantaranya aplikasi chat seperti whatsapp, line, telegram sebanyak 62,80%, situs web sebanyak 34,90%, dan media sosial sebanyak 92,40% (instagram, facebook, twitter). (2019)

2. PENYEBAB BANYAK BERITA HOAKS

Terbatasnya pengetahuan mengenai dunia luar. Hal ini juga memiliki banyak faktor seperti keterbatasan berita yang didapat dan keterbatasan media untuk menerima berita tersebut.

Penyebab lainnya adalah seringkali saat mendapat sebuah berita pembaca hanya membaca sebagian dari informasi. Bahkan banyak yang hanya membaca judul beritanya saja.

Terkadang juga berkaitan dengan dari siapa berita tersebut didapat. Tidak bisa dikatakan salah bahwa setiap orang memiliki pemikiran sendiri yang dianggapnya benar. Jika menemukan sesuatu yang memiliki persamaan dengan pemikiran tersebut, maka hal itu akan membuat kita memberikan tingkat kepercayaan yang sedikit lebih besar terhadap hal tersebut. Akibatnya adalah kita hanya bisa mempercayai sesuatu yang dianggap memiliki persamaan.

3. CONTOH HOAKS DI INDONESIA

Di Indonesia, hoaks bisa muncul dalam keadaan apa saja. Informasi yang terkandung di dalamnya juga bermacam-macam. Mulai dari bidan pendidikan, bidang kebudayaan, bidang politik, bidang keagamaan, dan lain lain. Tentunya hoaks dibuat dengan tujuan tertentu.

Contohnya dalam bidang politik, saat situasi pemilihan kepala pemerintahan maka banyak hoaks yang beredar dengan maksud menjatuhkan lawan. Contoh lain dalam bidang agama, hoaks sengaja dibuat dan disebarkan untuk memecah belah kerukunan antar agama.

1. Hoaks kirim pesan berantai (sebarkan ke 10 grup jika tidak maka akan sial)

Hoaks ini berisi tentang sesuatu yang harus diteruskan ke orang lain. Ada perintah dan mitos-mitos yang ditambahkan dalam pesan-pesan ini. Jika seseorang yang mendapat pesan ini tidak menyebarkannya, maka akan mendapat kesialan. Biasanya terjadi di aplikasi chatting seperti WhatsApp atau BBM.

2. Hoaks mendapat hadiah (sealamt nomor anda mendapatkan hadia 200 juta dari program ulang tahun telkomsel.

Contoh lain yaitu hoaks berisi tentang berita penerimaan hadiah gratis. Hoaks ini sudah sering terjadi. Terkadang meskipun pembaca tidak mengalami kerugian materi tetapi mereka bisa tertipu dengan mengisi survey tertentu. Dampaknya akan semakin besar jika korban mengisi identitasnya secara lengkap.

3. Hoax kisah menyedihkan

Hoaks ini berisi tentang kisah menyedihkan seseorang yang mengalami nasib buruk. Biasanya mengenai seseorang yang sedang sakit atau kecelakaan. Kemudian meminta bantuan berupa dana.

4. ALASAN HOAKS TETAP ADA

  • Jurnalisme yang lemah, jurnalisme yang lemah membuat konten hoaks terus berkembang karena tidak terbiasa dengan proses verifikasi, cek dan recheck. Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat semakin lama semakin tergerus.
  • Ekonomi, Faktor ekonomi yang lemah membuat peredaran hoak terus ada. Bagaimana tidak, dengan memproduksi hoaks atau mengarang berita seseorang bisa mendapatkan penghasilan yang dapat mendokrak ekonominya.
  • Internet, kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti meme, keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-media sosial. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.
  • Munculnya media abal-abal, kemunculan media abal-abal sama sekali tak menerapkan standar jurnalisme. Keadaan ini tentu semakin memperburuk kualitas informasi yang tersebar di masyarakat.
  • Pendidikan, rendahnya kualitas pendidikan membuat seseorang tidak bisa menyaring informasi yang diterimanya apalagi mencoba untuk bertindak kritis dengan membandingkan setiap informasi yang diterimannya dengan informasi yang ada di berbagai media mainstream.
  • Literasi media yang rendah, rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung mempercayai sebuah informasi yang diterima, didapatkannya tanpa melakukan verifikasi. Rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung untuk membagikan setiap informasi yang dapatkannya kepada orang lain tanpa mengetahui kebenaran dari sebuah informasi tersebut.

5. JENIS-JENIS HOAKS YANG BANYAK BEREDAR

1. Satire atau parodi

satire atau prodi adalah sebuah konten yang memang sengaja dibuat seseorang. Konten-konten jenis ini banyak digunakan untuk menyindir pihak tertentu. Selain itu, konten-konten jenis satire ini juga dibuat sebagai suatu bentuk kritik. Kritik yang disampaikan bisa dalam hubungan personal, kelompok dalam kelompok, maupun untuk mengkritik isu yang banyak terjadi di tengah masyarakat.

Konten satire sebenarnya belum sepenuhnya dapat dikatakan konten yang berbahaya. Konten satire ini juga biasanya tidak berpotensi memiliki unsur kejahatan. Akan tetapi, tetap saja konten-konten seperti ini masih banyak mengecoh masyarakat.

Banyak masyarakat yang serius menanggapi konten tersebut. Hal yang mengkhawatirkan lainnya, jika isi konten yang disampaikan juga hal-hal yang belum jelas kebenarannya. Masyarakat yang menonton secara langsung bisa saja percaya. Ini juga akan menjadi berita hoaks.

2. Misleading content (konten menyesatkan)

Misleading content atau konten yang menyesatkan juga kerap dibuat secara sengaja. Konten-konten jenis ini dibuat untuk menjelek-jelekkan seseorang atau sesuatu. Hal-hal yang diangkat dalam konten tersebut juga dapat menyangkut satu orang maupun banyak orang. Konten-konten jenis ini dibuat untuk menggiring opini masyarakat.

Konten menyesatkan atau misleading content dibuat dengan memanfaatkan informasi asli. Informasi-informasi itu bisa saja berupa pernyataan resmi, gambar atau foto, statistic dan lain-lain. Informasi tersebut akan diedit sedemikian rupa, sehingga informasi dengan konten yang akan dibuat tidak memiliki hubungan.

3. Imposter content (konten tiruan)

Imposter content adalah konten tiruan. Informasi yang ada di konten-konten jenis ini biasanya diambil dari informasi yang benar. Contohnya seperti mengutip pernyataan tokoh yang terkenal atau berpengaruh. Konten jenis ini tidak hanya dibuat untuk pribadi. Banyak konten-konten jenis ini yang dibuat untuk mempromosikan sesuatu.

Konten ini dibuat untuk menipu. Melalui konten serupa dengan aslinya, para penipu akan membuat konten yang mirip. Contohnya seperti layanan suatu aplikasi. Banyak orang yang mengatasnamakan sebuah aplikasi untuk menipu. Mengikuti format penulisan hingga sapaan.

4. Fabricated Content (konten palsu)

Jenis hoaks selanjutnya yaitu Fabricated content atau konten palsu. Konten hoaks yang satu ini adalah jenis konten yang sangat berbahaya. Konten ini dibuat untuk menipu orang-orang. Banyak juga yang dirugikan karena adanya konten palsu seperti ini.

Informasi-informasi yang ada juga tidak bisa dipertanggung jawabkan. Fakta yang ada dalam informasi itu tidak benar. Contoh yang sering terjadi dalam jenis konten ini adalah informasi lowongan kerja. Mengatasnamakan suatu perusahaan atau lembaga, informasi lowongan kerja dibuat sampai mirip dengan aslinya.

5. False connection (koneksi yang salah)

False connection atau salah koneksi, konten jenis ini juga banyak ditemukan di media sosial. Contoh yang sering ditemukan adalah perbedaan antara isi konten, judul konten, hingga gambar konten. Konten-konten ini sengaja dibuat untuk mendapatkan sebuah keuntungan.

6. False context (konteks keliru)

False context adalah konten yang keliru. Dikatakan keliru karena memuat informasi yang tidak benar. Contoh konten-konten seperti ini berisi sebuah pernyataan, video atau foto yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Kemudian kejadian itu ditulis ulang dan tidak disesuaikan dengan fakta sebenarnya.

7. Manipulated content (konten manipulasi)

Konten manipulasi adalah sebuah konten yang sudah diedit. Konten-konten tersebut akan diedit sehingga tidak sesuai dengan konten aslinya. Konten-konten jenis ini dibuat untuk mengecoh para masyarakat yang membacanya. Kejadian seperti ini banyak dialami oleh media-media besar. Konten yang mereka buat akan diedit atau disunting oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

6. KETENTUAN PIDANA

Bagi penyebar hoax, dapat diancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE (UU ITE) yang menyatakan “Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik yang Dapat diancam pidana berdasarkan Pasal 45A ayat (1) UU 19/2016, yaitu dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

hoax ini harus ada yang dirugikan, baik itu seseorang atau korporasi yang merasa dirugikan. Kalau enggak ada, ya cenderung gosip di dunia maya. Perlu ada obyek dan subyek dari hoax ini

Untuk melaporkan hoax, pengguna bisa melakukan screen capture disertai url link, kemudian mengirimkan data ke aduankonten@mail.kominfo.go.id. Kiriman aduan segera diproses setelah melalui verifikasi. Kerahasiaan pelapor dijamin dan aduan konten dapat dilihat di laman web trustpositif.kominfo.go.id.

Apakah Hoax Merupakan Tindak Pidana?

Istilah hoax/hoaks tidak dikenal dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Tetapi ada beberapa peraturan yang mengatur mengenai berita hoax atau berita bohong ini. Berikut penjelasannya:

Pertama, Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) melarang:

Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

Jika melanggar ketentuan di atas pelaku dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Jika dicermati lagi, UU ITE pasal di atas sebenarnya mengatur mengenai hoax (berita bohong) yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik. Bahkan melalui pedoman implementasi pasal-pasal UU ITE pun dijelaskan mengenai Pasal 28 ayat (1) UU ITE, yaitu sebagai berikut:

  1. Delik pidana dalam pasal ini bukan merupakan pemidanaan terhadap perbuatan menyebarkan berita bohong (hoaks) secara umum, melainkan perbuatan menyebarkan berita bohong dalam konteks transaksi elektronik seperti perdagangan daring;
  2. Berita atau informasi bohong dikirimkan atau diunggah melalui layanan aplikasi pesan, penyiaran daring, situs/media sosial, lokapasar (market place), iklan, dan/atau layanan transaksi lainnya melalui sistem elektronik;
  3. Pasal ini merupakan delik materiil, sehingga kerugian konsumen sebagai akibat berita bohong harus dihitung dan ditentukan nilainya;
  4. Definisi “konsumen” pada pasal ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Lalu apa dasar hukum yang bisa menjerat penyebar berita bohong yang tidak mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik?

Menurut hemat kami, berita bohong yang disebarkan melalui media elektronik (sosial media) yang bukan bertujuan untuk menyesatkan konsumen, dapat dipidana menurut UU ITE tergantung dari muatan konten yang disebarkan seperti:

  1. Jika berita bohong bermuatan kesusilaan maka dapat dijerat pidana berdasarkan Pasal 27 ayat (1) UU ITE;
  2. Jika bermuatan perjudian maka dapat dipidana berdasarkan Pasal 27 ayat (2) UU ITE;
  3. Jika bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dipidana berdasarkan Pasal 27 ayat (3) UU ITE;
  4. Jika bermuatan pemerasan dan/atau pengancaman dipidana berdasarkan Pasal 27 ayat (4) UU ITE;
  5. Jika bermuatan menimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA dipidana berdasarkan Pasal 28 ayat (2) UU ITE;
  6. Jika bermuatan ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi dipidana berdasarkan Pasal 29 UU ITE.

Kedua, Pasal 390 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) juga mengatur hal yang serupa walaupun dengan rumusan yang sedikit berbeda yaitu digunakannya frasa “menyiarkan kabar bohong”. Pasal 390 KUHP berbunyi sebagai berikut:

Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak menurunkan atau menaikkan harga barang dagangan, fonds atau surat berharga uang dengan menyiarkan kabar bohong, dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan.

Menurut R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 269), terdakwa hanya dapat dihukum dengan Pasal 390 KUHP, apabila ternyata bahwa kabar yang disiarkan itu adalah kabar bohong. Yang dipandang sebagai kabar bohong, tidak saja memberitahukan suatu kabar yang kosong, akan tetapi juga menceritakan secara tidak betul tentang suatu kejadian.

Ketiga, Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (“UU 1/1946”) juga mengatur mengenai berita bohong yakni:

  Pasal 14

  1. Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.
  2. Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.

Pasal 15

Barangsiapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga bahwa kabar demikian akan atau sudah dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi, tingginya dua tahun

7. CARA MENGHINDARI ATAU MEMBERANTAS KEJAHATAN INFORMASI DUNIA NYATA DAN DUNIA MAYA (HOAKS)

Cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi berita yang diterima benar atau tidak adalah sebagai berikut:

1. Cermati baik-baik judul berita tersebut

Hal yang pertama dibaca dalam sebuah berita pasti adalah judulnya. Maka dari itu, cermati judul dari berita yang di dapat. Apakah sesuai dengan informasi yang ada di dalam berita tersebut atau tidak.

2. Hati-hati jika mengandung unsur provokasi

Salah satu unsur yang ada di dalam berita hoaks adalah adanya unsur provokasi. Provokasi merupakan perbuatan untuk membangkitkan kemarahan, tindakan menghasut atau tindakan memancing. Jika sebuah berita atau konten berisi hal-hal yang mengandung unsur provokasi, maka berita itu harus diwaspadai.

3. Lihat darimana sumber berita

Memang betul bahwa informasi bisa didapatkan melalui mana saja. Akan tetapi, melihat sumber informasi yang didapat juga penting. Sebagai pembaca, kita harus selalu jeli dan melihat keaslian sumber berita yang kita terima.

4. Periksalah fakta informasi dalam berita tersebut

Jika informasi dalam berita yang didapat mengandung sebuah fakta, maka kita perlu untuk memeriksa kembali fakta itu. Periksalah fakta yang terdapat dalam informasi tersebut. Caranya dengan mencari sumber lain yang pastinya terpercaya.

5. Periksa kembali foto atau video

Dalam sebuah berita, terkadang ada yang menyisipkan sebuah foto atau video. Foto atau video tersebut juga perlu untuk diverifikasi Kembali. Apakah foto atau video yang ditampilkan dapat dipercaya keasliannya, atau hanya sebagai pemanis berita saja.

6. Berpikir secara kritis

Ketika mendapatkan sebuah berita atau informasi, cobalah untuk berpikir kritis. Jangan langsung menelan mentah-mentah berita yang ada. Cermati dulu isi berita serta kelogisan dari beritanya.

7. Jangan langsung membagikan

Ketika menerima suatu informasi atau berita, jangan langsung membagikannya. Terlebih jika belum mengetahui apakah berita yang didapat benar atau tidak. Jika sudah ada kepastian bahwa berita yang didapat mengandung informasi yang benar, maka tidak masalah jika ingin membagikannya.

error

Share to: