Media Pers Indonesia Media Pers Indonesia » WARGA WADAS MASIH WASWAS

WARGA WADAS MASIH WASWAS

WARGA WADAS MASIH WASWAS

Mediapersindonesia.com – Insiden di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menimbulkan kerenggangan antarwarga. Selain itu, warga mengaku masih trauma melihat kehadiran aparat di desa mereka.


“Bahkan saat salat di masjid itu saja kelihatan. Yang pro di sini, yang kontra di situ. Kalau saya inginnya adem ayem. Tapi gimana lagi, itu kan hak masing-masing warga,” kata warga Dusun Winongsari, Wadas, Mujianto, saat dijumpai di Masjid Al-Hidayah, Sabtu (12/2/2022).

Mujianto adalah warga yang setuju terhadap rencana proyek penambangan. Warga lainnya, Rodhiyah, juga membenarkan hubungan sosial di desanya sudah renggang.

“Ya sejak ada sengketa itu, sampai sekarang renggang,” kata dia.

Pada kesempatan berbeda, Himan, yang merupakan warga Dusun Winongsari, Wadas, mengaku, akibat insiden pada awal pekan, dirinya sampai sekarang khawatir pergi ke lahan pertanian. Dia juga masih terbayang saat warga diamankan aparat.

“Ketakutan, nggak berani cari makan ternak, nggak berani kerja (bertani). Saya juga di situ, langsung lari ke dalam masjid. Kalau masih di luar, mungkin saya ditangkap juga,” kata Himan.

Dia yakin tak ada yang berusaha menyerang petugas dengan senjata tajam. Menurutnya, senjata tajam yang dilihat polisi adalah alat kerja masyarakat.

Baca Juga: KARENA ATURAN BARU INI, JHT TIDAK BISA DICAIRKAN SEBELUM PEKERJA ATAU BURUH BERUMUR 56 TAHUN

“Kalau warga ke ladang, ya pasti bawa arit, biasa, bukan untuk menyerang,” kata dia.

Pengakuan yang sama disampaikan pemilik warung di Dusun Winongsari. Dia mengaku trauma karena adiknya sempat ditangkap polisi.

“Saya lihat di depan mata, adik saya ditangkap. Tahu-tahu dibawa. Kemarin katanya sudah selesai, tapi ini kok datang lagi, nggak tahu ngapain. Nggak nyaman, penginnya seperti hari biasanya,” ujar wanita yang enggan disebutkan namanya itu.

Ketua GP Ansor Ungkap Laporan Warga soal Wadas Terkini.
Ketua GP Ansor Luqman Hakim mengungkap kondisi terkini di Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah, pasca-insiden. Luqman mengatakan, berdasarkan laporan LBH Ansor, Desa Wadas masih terisolasi.

Luqman mengatakan pihak GP Ansor telah berada di Desa Wadas sejak Rabu (9/2). Sejak saat itu, GP Ansor mengumpulkan data terkait insiden yang terjadi di lokasi.

“LBH Ansor turun langsung ke lokasi konflik di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jateng, sejak 9 Februari kemarin. LBH Ansor memperoleh banyak data dari warga yang pro dan kontra pembebasan lahan. LBH Ansor juga bertemu dan melakukan wawancara terhadap beberapa warga yang pernah ditangkap polisi,” kata Luqman dalam keterangannya hari ini.

Tak hanya itu, anggota DPR Fraksi PKB Dapil Jawa Tengah VI ini juga memaparkan kondisi di Desa Wadas per Jumat (11/2) malam kemarin. Dia menyebut masih banyak polisi bersenjata api hingga kondisi desa yang terisolasi.

“Banyak warga yang masih trauma atas peristiwa pengepungan, penangkapan, dan penahanan warga oleh aparat polisi. Masih sangat banyak polisi berjaga dengan senjata lengkap dan membawa anjing pelacak (K-9). Listrik PLN masih padam. Sudah sejak Senin (7/2) listrik dimatikan oleh PLN dan sinyal seluler sulit diperoleh, menyebabkan informasi dari Desa Wadas tidak mudah diakses. Desa Wadas masih terisolasi,” ucapnya.

Atas laporan itu, Luqman pun mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo segera menarik seluruh pasukan dari Desa Wadas. Langkah ini, kata dia, demi mengurangi trauma warga.

“Meminta kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk segera merealisasikan komitmennya menarik seluruh pasukan polisi dari Desa Wadas dan sekitarnya. Penarikan pasukan ini penting untuk mengurangi faktor traumatik warga,” ujarnya.

Seperti diketahui, penambangan andesit ini berkaitan dengan proyek pembangunan Bendungan Bener. Batuan andesit di lahan pertanian warga akan diambil dalam waktu 2-3 tahun. Pemerintah mengklaim setelahnya akan mengembalikan lahan bekas tambang itu kepada masyarakat.

error

Share to: