Mediapersindonesia.com – JAKARTA. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa kemungkinan perubahan rezim di Iran merupakan proses yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan upaya yang pernah dilakukan terhadap pemerintahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
“Menurut saya, hal itu akan jauh lebih kompleks dari yang mungkin kita bayangkan saat ini, mengingat rezim tersebut telah berkuasa dalam waktu yang sangat lama,” ujar Rubio di hadapan anggota parlemen dalam sidang Senat yang membahas Venezuela, sebagaimana dilaporkan ANTARA mengutip Anadolu, Kamis, 29 Januari.
Ia menambahkan bahwa skenario tersebut memerlukan pertimbangan yang sangat matang apabila benar-benar akan dilakukan. “Itu membutuhkan pemikiran yang sangat hati-hati jika kemungkinan tersebut ingin diwujudkan,” lanjutnya.
Rubio menjelaskan bahwa keberadaan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah pada dasarnya bersifat defensif. Saat ini, terdapat sekitar 30.000 hingga 40.000 personel militer AS yang ditempatkan di delapan atau sembilan pangkalan di wilayah tersebut.
Menurutnya, pasukan Amerika berada dalam jangkauan ribuan drone serta rudal balistik jarak pendek milik Iran. Kondisi ini, kata Rubio, menegaskan pentingnya langkah pencegahan dini guna mengantisipasi potensi serangan terhadap tentara AS maupun sekutu-sekutunya di kawasan.
“Kami harus memiliki kekuatan dan kapasitas yang memadai di wilayah ini, setidaknya sebagai fondasi untuk bertahan menghadapi kemungkinan ancaman tersebut,” ujarnya.
Baca juga: MENTERI PU INSTRUKSIKAN JALAN LEMBAH ANAI DIBUKA PENUH 24 JAM SELAMA ARUS MUDIK LEBARAN
Ia juga menyinggung adanya perjanjian keamanan, termasuk rencana pertahanan Israel dan negara lain, yang menuntut kehadiran kekuatan militer AS di kawasan guna menghadapi potensi ancaman tersebut.
Rubio turut menilai bahwa pemerintahan Iran saat ini kemungkinan berada dalam posisi yang lebih lemah dibanding sebelumnya. Ia menuding Teheran gagal menjawab tuntutan utama para pengunjuk rasa, terutama terkait kondisi ekonomi yang terus memburuk.
Ia memperkirakan gelombang protes akan kembali terjadi di masa mendatang apabila pemerintah Iran tidak melakukan perubahan signifikan atau memilih untuk mundur.
Pernyataan Rubio muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa “armada besar” Amerika tengah bergerak menuju Iran, seraya menyatakan harapan agar Teheran bersedia membuka jalur perundingan dengan Washington.
Iran sendiri telah dilanda aksi protes sejak 28 Desember, yang bermula di Grand Bazaar Teheran akibat anjloknya nilai tukar rial serta memburuknya situasi ekonomi. Unjuk rasa tersebut kemudian meluas ke berbagai kota lain.
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik dukungan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “perusuh bersenjata”, yang dituding bertujuan menciptakan alasan bagi campur tangan asing. Pejabat Iran juga memperingatkan bahwa setiap serangan dari AS akan dibalas dengan respons yang cepat dan menyeluruh.






More Stories
DUGAAN KORUPSI KEPABEANAN DINILAI TERSTRUKTUR, KPK DIDORONG LAKUKAN AUDIT FORENSIK ALIRAN DANA
DPR DORONG PEMERINTAH MANFAATKAN PELEMAHAN EKONOMI SINGAPURA SEBAGAI PELUANG STRATEGIS
TIGA KAJARI DICOPOT, KEJAGUNG DALAMI DUGAAN INTERVENSI KASUS DAN PENYIMPANGAN