17/04/2026

MEDIA PERS INDONESIA

-INTEGRITAS FAKTA TERPERCAYA-

MENANTI KEPASTIAN, KELUARGA KORBAN ATR 42-500 JALANI TES DNA

Mediapersindonesia.com – MAKASSAR. Keluarga Muhammad Farhan Gunawan, salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), mendatangi Posko Ante Mortem Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Jalan Kumala, Makassar, untuk menjalani pengambilan sampel DNA.

Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Haris mengatakan, satu anggota keluarga korban secara aktif datang ke posko DVI untuk memberikan keterangan sekaligus menyerahkan sampel DNA.
“Hari ini ada satu orang keluarga korban yang hadir dan telah diambil sampel DNA-nya setelah memberikan keterangan hubungan keluarga dengan korban,” ujar Haris, dikutip dari Antara, Senin (19/1).

Pengambilan sampel DNA tersebut bertujuan untuk memastikan kecocokan data apabila jenazah korban ditemukan, sehingga memudahkan proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI). Sampel DNA diambil dari Haerul Gunawan, adik kandung Muhammad Farhan Gunawan.

“Apabila nantinya ditemukan jasad korban, data tersebut akan langsung dicocokkan dengan sampel DNA yang sudah diambil,” jelas Haris.

Selain di Sulawesi Selatan, keluarga korban lainnya juga menjalani prosedur serupa di daerah lain. Salah satunya keluarga Esther Aprilita, pramugari yang berada di dalam pesawat nahas tersebut, yang mendatangi Biddokkes di Provinsi Jawa Barat untuk memberikan keterangan dan sampel DNA.

Baca juga: INDONESIA PEGANG PRESIDENSI DEWAN HAM PBB, KEMLU RI TEGASKAN AMANAH BESAR

Haris menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi dan secara aktif menghubungi seluruh keluarga korban agar proses pengumpulan data ante mortem dapat segera diselesaikan. Dari total 10 korban, baru dua keluarga yang telah memberikan sampel.
“Masih ada delapan korban lainnya. Kami terus berupaya mendatangi dan menghubungi pihak keluarga untuk pengambilan sampel DNA,” katanya.

Sebelumnya, Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan bahwa Rumah Sakit Bhayangkara Biddokkes Polda Sulsel telah ditetapkan sebagai lokasi identifikasi korban. Tim DVI dari Mabes Polri juga telah diterjunkan untuk membantu proses tersebut.

Untuk mempercepat pelayanan, dilakukan metode jemput bola dengan berkoordinasi bersama Biddokkes di daerah lain, baik untuk pemeriksaan ante mortem maupun post mortem, guna memastikan identitas para korban.

Pesawat ATR 42-500 tersebut mengangkut 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang (persons on board/POB). Tiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal.

Sementara tujuh kru pesawat terdiri atas Kapten Andi Dahananto, kopilot Muhammad Farhan Gunawan, serta kru Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita.

Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat melintas di kawasan pegunungan Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, ketika hendak mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1/2026) siang.

Memasuki hari kedua operasi pencarian dan penyelamatan, tim SAR gabungan telah menemukan sejumlah serpihan pesawat serta satu jenazah korban yang hingga kini masih dalam proses identifikasi.