Oleh: Norma Tiara Adisti
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang
Mediapersindonesia.com – PENDIDIKAN. Antara akhir November dan awal Desember 2025, duka mendalam melanda sebagian besar Sumatera, ketika banjir bandang dan tanah longsor dahsyat menghantam Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Bencana ini tidak hanya merenggut ratusan nyawa dan melumpuhkan infrastruktur vital, tetapi juga mengungkap kenyataan pahit kegagalan serius dalam tata kelola lahan telah memicu kehancuran. Kerugian yang dialami masyarakat sangat besar dan ironisnya, dampak kerusakan habitat yang ditimbulkannya secara langsung memperburuk nasib satwa liar yang sudah berada di ambang batas.
Akar masalah yang memicu kehancuran ini terletak pada keserakahan alih fungsi lahan. Selama puluhan tahun, hutan hujan tropis Sumatera, yang berfungsi penting sebagai penyeimbang iklim global, terus dikorbankan demi memenuhi haus pasar komoditas dunia. Ekspansi perkebunan kelapa sawit, yang sering dibarengi dengan pembalakan liar, adalah mesin utama yang melucuti pertahanan alami pulau ini. Padahal, hutan primer memiliki kemampuan luar biasa sebagai penahan air alami sistem perakarannya yang rapat mampu menahan air dan mencegah tanah longsor. Sekarang, area tersebut berganti rupa menjadi ladang sawit, yang perakarannya dangkal dan tidak mampu menahan laju air. Konsekuensinya mutlak saat hujan ekstrem tiba, tidak ada lagi penyangga. Air mengalir bebas, menyapu habis tanah dan lumpur, yang kemudian memicu bencana hidrometeorologi dahsyat yang kita saksikan.
Penyusutan hutan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan kehancuran nyata bagi jaringan kehidupan. Secara ekologis, kebun sawit sering disebut sebagai gurun hijau karena miskin keanekaragaman hayati. Riset membuktikan bahwa kekayaan spesies serangga di lahan konversi anjlok hingga 40 persen, dan kurang dari seperempat vertebrata hutan hujan yang sanggup bertahan di lingkungan monokultur tersebut. Kondisi ini kian kritis ketika bencana
menghantam sisa-sisa habitat yang ada. Satwa-satwa ikonik kini menjadi korban langsung, di mana laporan memilukan menunjukkan Gajah Sumatera ditemukan mati mengenaskan terjepit di antara puing kayu dan material banjir, sementara Harimau Sumatera semakin sering masuk ke pemukiman karena wilayah burunya hancur diterjang longsor.
Tragedi ini bahkan mencapai spesies paling terancam di dunia yaitu Orangutan Tapanuli. Ditemukannya individu Orangutan Tapanuli yang mati atau terdampar akibat habitatnya di Ekosistem Batang Toru terkoyak bencana menjadi sinyal merah bagi dunia internasional. Satwa-satwa ini terjebak dalam posisi mustahil karena rumah mereka disapu air bah, namun di sisi lain mereka sering dianggap hama ketika mencoba mencari selamat di perkebunan sawit. Tanpa upaya pemulihan hutan yang utuh sebagai benteng pelindung, bencana ini bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan lonceng kematian bagi satwa-satwa endemik yang kini berada di titik nadir kepunahan.






More Stories
DUGAAN KORUPSI KEPABEANAN DINILAI TERSTRUKTUR, KPK DIDORONG LAKUKAN AUDIT FORENSIK ALIRAN DANA
DPR DORONG PEMERINTAH MANFAATKAN PELEMAHAN EKONOMI SINGAPURA SEBAGAI PELUANG STRATEGIS
TIGA KAJARI DICOPOT, KEJAGUNG DALAMI DUGAAN INTERVENSI KASUS DAN PENYIMPANGAN