17/04/2026

MEDIA PERS INDONESIA

-INTEGRITAS FAKTA TERPERCAYA-

JELANG TAHUN BARU 2026, RUPIAH MENGUAT DI TENGAH BAYANG-BAYANG TEKANAN

Mediapersindonesia.com – NASIONAL. Menjelang libur Tahun Baru 2026, nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin, 29 Desember 2025, tercatat mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski tekanan eksternal masih berpotensi membayangi pergerakannya.

Di pasar spot, rupiah terpantau bergerak relatif stabil dengan kecenderungan menguat. Pada awal perdagangan Senin, rupiah dibuka di level Rp16.740 per dolar AS, menguat tipis 0,06 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat, 26 Desember, yang berada di posisi Rp16.745 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Jumat, 26 Desember, nilai tukar rupiah spot tercatat melemah 0,02 persen dan ditutup di level Rp16.745 per dolar AS. Sementara itu, pada Rabu, 24 Desember, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) justru ditutup menguat 0,14 persen ke posisi Rp16.767 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengingatkan bahwa meskipun menguat, rupiah masih berpeluang menghadapi tekanan terhadap dolar AS. Ia menilai prospek kebijakan pelonggaran fiskal pemerintah dan Bank Indonesia berpotensi menjadi faktor pembatas penguatan rupiah.

Baca juga: POLISI PASTIKAN SITUASI DI UIN AMSA AMBON KONDUSIF PASCABENTROKAN PEMUDA

“Rupiah masih berpotensi mengalami pelemahan terhadap dolar AS, seiring prospek kebijakan pelonggaran dari pemerintah dan BI,” ujarnya, Senin (29/12).

Ia juga menambahkan bahwa volatilitas rupiah diperkirakan meningkat seiring dengan kondisi perdagangan yang cenderung sepi di akhir tahun.

“Dalam suasana perdagangan akhir tahun yang minim likuiditas, pergerakan rupiah cenderung lebih volatil,” jelasnya.

Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, salah satunya memanasnya kembali hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela, yang berdampak pada stabilitas pasar keuangan internasional.

“Kebijakan keras Washington terhadap pengiriman minyak Venezuela serta respons dari Caracas memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan risiko pasokan global,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip Senin (29/12).

Selain faktor geopolitik, Ibrahim menambahkan bahwa ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Pelaku pasar masih mencermati peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada 2026, meskipun sejumlah indikator ekonomi AS menunjukkan kinerja yang solid.

Ia merujuk laporan Biro Analisis Ekonomi AS yang mencatat pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 4,3 persen pada kuartal III, lebih tinggi dari proyeksi pasar sebesar 3,3 persen dan estimasi sebelumnya 3,8 persen.

Di sisi lain, data menunjukkan pesanan barang tahan lama AS turun 2,2 persen pada Oktober, berbalik dari kenaikan 0,7 persen pada bulan sebelumnya. Pesanan di luar sektor pertahanan juga menyusut 1,5 persen, sementara pesanan barang tahan lama di luar sektor transportasi masih mencatatkan kenaikan tipis 0,2 persen.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp16.760 hingga Rp16.790 per dolar AS. Sementara itu, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah berada di rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS pada perdagangan Senin (29/12).