24/05/2026

MEDIA PERS INDONESIA

-INTEGRITAS FAKTA TERPERCAYA-

CHINA IMBAU AS TAHAN DIRI DAN JAGA STABILITAS USAI PERNYATAAN TRUMP SOAL IRAN

Mediapersindonesia.com – INTERNATIONAL. Pemerintah China menyerukan pentingnya menjaga stabilitas dan penyelesaian konflik melalui jalur dialog menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pengerahan kekuatan militer ke arah Iran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing pada Jumat, 23 Januari, menyampaikan harapan agar Iran dapat mempertahankan stabilitas nasional. Ia juga menekankan agar seluruh pihak menjunjung tinggi perdamaian, menahan diri, serta menyelesaikan perbedaan melalui komunikasi dan dialog.

Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat mengirimkan kekuatan militer dalam jumlah besar ke kawasan sekitar Iran. Trump menyebut langkah tersebut bersifat antisipatif dan berharap tidak terjadi eskalasi konflik.

“Kami memiliki armada besar yang bergerak ke arah itu untuk berjaga-jaga. Kita akan melihat bagaimana perkembangannya,” ujar Trump kepada wartawan saat berada di pesawat Air Force One dalam perjalanan dari Davos, Swiss, menuju Washington, DC.

Baca juga: KASUS CHROMEBOOK DINILAI PERLUAS TAFSIR KERUGIAN NEGARA DALAM HUKUM KORUPSI

Trump menegaskan bahwa pemerintah AS terus memantau situasi Iran secara ketat. Ia menyatakan kehadiran armada tersebut diharapkan tidak perlu digunakan, namun tetap disiagakan sesuai perkembangan situasi.

Selain itu, Trump kembali reminded Iran agar tidak melanjutkan program nuklirnya. Ia menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap larangan pengembangan senjata nuklir berpotensi memicu respons militer dari Amerika Serikat. Menurut Trump, Washington akan memastikan posisi Teheran terkait aktivitas nuklir dan tidak akan mentoleransi upaya apa pun menuju kepemilikan senjata nuklir.

Trump juga mengklaim bahwa Iran membatalkan rencana eksekusi terhadap ratusan pengunjuk rasa setelah ia menyampaikan peringatan militer. Ia menyebut sebelumnya terdapat rencana eksekusi massal terhadap para demonstran, namun hal tersebut tidak jadi dilakukan.

Gelombang protes di Iran sendiri diketahui pecah sejak 28 Desember akibat memburuknya kondisi ekonomi, termasuk melemahnya mata uang nasional dan meningkatnya inflasi. Aksi demonstrasi kemudian meluas ke sejumlah kota dan berujung bentrokan dengan aparat keamanan.

Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik aksi kelompok yang mereka sebut sebagai perusuh bersenjata, yang diduga melakukan serangan di berbagai fasilitas umum. Tuduhan tersebut telah dibantah oleh pihak Washington.