June 19, 2024

SOSOK AL-MUSTA’SHIM BILLAH, KHALIFAH TERAKHIR BANI ABBASIYAH

Mediapersindonesia.com – RELIGI – Kekhalifahan bani Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya saat dipimpin oleh Harun Ar-Rasyid. Daulah ini akhirnya runtuh saat dibawah pimpinan Al-Mu’tashim Billah, khalifah terakhir bani Abbasiyah.

Melansir pada buku Sejarah Sosial Pendidikan Islam yang ditulis oleh Wahyudi dan Khoirun Nisa’, Dinasti Abbasiyah adalah dinasti terlama dalam sejarah peradaban Islam. Sekitar 5 abad bani Abbasiyah telah mengantarkan Islam pada masa kejayaannya.

Pada masa dinasti Abbasiyah, perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani yang mengalami puncaknya. Terutama pada zaman Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun. Kegiatan penerjemahan buku-buku pun berjalan selama kurang lebih satu abad.

Namun, dijelaskan lebih lanjut, tidak dipungkiri bahwa pemerintahan dari bani Abbasiyah pun mengalami permasalahan politik kompleks yang menimpanya. Mulai dari kudeta hingga pembentukan dinasti-dinasti baru.

Khalifah terakhir bani Abbasiyah adalah Al-Musta’shim Billah. Disebutkan dalam Ad-Daulah Al-Abbasiyah karya Syaikh Muhammad Al-Khudhari, Al-Musta’shim Billah memiliki nama lengkap Abu Ahmad Abdullah Al-Musta’shim Billah bin Al-Mustanshir bin Azh-Zhahir bin An-Nashir bin Al-Mustadhi’ bin Al-Mustanjid bin Al-Muqtafi bin Al-Mustazhhir bin Al-Muqtadi bin Muhammad Adz-Dzakhirah bin Al-Qa’im bin Al-Qadir bin Ishaq bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid bin Thalhah bin Al Mutawakil bin Al-Mu’tashim bin Ar-Rashid bin Al-Muhtadi bin Al-Manshur.

Syaikh Muhammad Al-Khudhari mengatakan, jika dilihat dari silsilahnya, ada 17 leluhur Al-Musta’shim Billah menjadi khalifah. Ia sendiri secara resmi diangkat sebagai khalifah pada 10 Jumadil Akhir 640 H/6 Desember 1242 M menggantikan ayahnya yang meninggal dunia.

Baca Juga: KORUPSI DALAM PANDANGAN ISLAM, PERBUATAN BURUK YANG MERUGIKAN ORANG LAIN

Menurut Ibnu Thabathaba, salah seorang cendekiawan Iran, Khalifah Al-Musta’shim adalah sosok yang baik, agamis, lemah lembut, santun, murah hati, sangat menjaga lisan dan kemaluannya, dan hafal Al-Qur’an.
Kemunduran Khalifah Al-Musta’shim Billah

Melansir buku Bencana-bencana Besar dalam Sejarah Islam oleh Fathi Zaghrut, beberapa pakar sejarah menyatakan bahwa periode permulaan menurunnya kejayaan Dinasti Abbasiyah ialah pada periode Al-Mutawakkil merupakan periode permulaan menurunnya kejayaan Dinasti Abbasiyah yang berakhir dengan kejatuhannya ke pasukan Tatar pada 656 H.

Permasalahan yang dialami oleh Dinasti Abbasiyah adalah ketergantungannya dengan kekuatan asing dalam membangun pemerintahan mereka. Kemudian, dalam masalah administrasi negara, mereka bergantung pada orang-orang Khurasan sebagai tumpuan utamanya dan kemudian bangsa Turki.

Al-Musta’shim Billah merupakan khalifah bani Abbasiyah pertama yang meminta bantuan kepada bangsa Turki dan melimpahkan tugas-tugas serta jabatan yang penting kenegaraan kepada mereka, bahkan memberikan beberapa bidang tanah dan wilayah pemerintahan umat Islam kepada mereka.

Sikap dan kebijakan Khalifah Al-Musta’shim Billah merubah corak pemerintahan yang sebelunnya memiliki nuansa Arab berubah menjadi nuansa Turki. Kondisi tersebut melemahkan kekuasaan khalifah yang mengantarkannya pada jurang kejatuhan dan keruntuhannya.

Khalifah Al-Musta’shim Billah sebenarnya telah menyadari adanya ancaman bahaya dari bangsa Turki yang menjadi beban bagi penduduk Baghdad. Sebab itu, ia memikirkan secara keras untuk memindahkan mereka ke Samara dan jauh dari pusat pemerintahan di Baghdad.

Pengaruh dan kekuasaan Khalifah Al-Musta’shim Billah semakin besar yang menyebabkan bangsa Arab dan Persia menaruh kedengkian terhadap mereka. Sebab, mereka berkonspirasi melawan Al-Musta’shim dan tokoh penting lainnya yang merupakan sumber ancaman bahaya bagi khalifah Abbasiyah.

Bentuk lainnya yang merupakan pengaruh dan campur tangan bangsa Turki adalah Khalifah Al-Mutawakkil yang berpandangan bahwa ia mengutamakan Al-Mu’tazz dibanding kedua saudaranya Al-Muayyid dan Al-Muntashir untuk menjabat sebagai khalifah sesudahnya.

Akan tetapi, Al-Muntashir pun marah sebab hal tersebut dan sebagian pendukung Al-Muntashir berusaha membunuh Al-Mutawakkil melalui tipu muslihat di Damaskus. Namun, mereka menyembunyikan niat jahat tersebut dengan mengadakan kesepakatan dengan Baghir dan Turki untuk membunuh Al-Mutawakkil. Ia pun membunuhnya dengan sebilah pedang sehingga kekhalifahan pun dijabat oleh putra dari Al-Muntashir.

“Dari realita ini tampak jelas bagaimana persoalan kekhalifahan menjadi boneka yang mudah dimainkan orang-orang Turki itu. Sebab mereka mampu memberhentikan seorang khalifah dan menggantinya dengan yang lain. Beginilah keadaan para khalifah bani Abbasiyah yang semakin lemah, serta situasi dan kondisi kekhalifahan semakin memburuk keadaannya hingga sampai pada taraf menjadikannya sekadar nama atau simbol,” jelas Fathi Zaghrut dalam bukunya.

Dijelaskan lebih lanjut, di antara faktor paling nyata yang memperlihatkan kelemahan dinasti Abbasiyah adalah sang khalifah kehilangan kewenangan dan kekuasaan administratif dan politiknya, sehingga kedudukannya hanya sebagai simbol keagamaan saja.

Bani Buwaihi menguasainya dengan ajaran Syiahnya yang tidak mengakui kedudukannya dalam bidang keagamaan. Dengan situasi tersebutlah Dinasti Fathimiyah berani melancarkan serangan terhadap kekhalifahan Abbasiyah. Bahkan mereka senantiasa menjaga superioritas dan mengendalikannya. Demikian seperti dijelaskan dalam buku tersebut.

Pada akhirnya, Khalifah Al-Musta’shim Billah dieksekusi mati oleh Hulagu Khan pada tanggal 20 Muharram 656 H/27 Januari 1258 M. Terbunuhnya Khalifah Al-Musta’shim Billah ini menandai berakhirnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah.